Pengertian Kata Baku dan Tidak Baku, Ciri-Ciri, Fungsi, Unsur Serapan, dan Contohnya

Apa sih yang dimaksud dengan kata baku dan tidak baku? Mungkin kita sering mendengar istilah kata baku dan kata tidak baku, baik ketika di sekolah, lingkungan masyarakat, lingkungan kerja, dan lain-lain.

Kata baku dan tidak baku juga mempengaruhi terbentuknya kalimat efektif. Selain kata baku dan tidak baku, kalimat efektif juga dipengaruhi oleh penggunaan huruf kapital dan kata ganti atau pronomina.

Artikel kali ini saya buat untuk teman-teman yang ingin memahami tentang apa dan bagaimana yang disebut dengan kata baku dan tidak baku itu. Perhatian penjelasan dibawah ini.

 

Pengertian Kata Baku dan Tidak Baku

Antara kata baku dan kata tidak baku memiliki arti yang berbeda, yaitu :

1. Penjelasan Mengenai Kata Baku

kata baku
portalsatu.com

Kata baku adalah kata yang komponen huruf pembentuknya sudah sesuai dengan pedoman atau kaidah bahasa atau EYD yang berlaku dan ditentukan. Atau juga dapat diartikan kata yang sudah benar penulisannya dengan aturan maupun kaidah bahasa yang berlaku. Sumber utama dari bahasa baku yaitu Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

Kata baku pada umumnya digunakan pada teks atau kalimat yang bersifat resmi, baik itu dalam bentuk lisan maupun tulisan.

Sedangkan kata tidak baku merupakan kebalikan dari kata baku, yaitu kata yang digunakan tidak sesuai dengan kaidah pada Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Ketidak bakuan suatu kata tidak hanya ditimbulkan karena salah dalam penulisannya saja, tetapi juga karena pengucapan yang salah. Dan biasanya kata-kata tidak baku sering muncul dalam percakapan kita sehari-hari.

2. Penjelasan Mengenai Kata Tidak Baku

kata baku dan tidak baku, kata tidak baku
pexels.com

Kata tidak baku adalah kata yang digunakan tidak sesuai dengan kaidah bahasa yang sudah ditentukan atau Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Kata tidak baku biasanya digunakan dalam percakapan sehari-hari di lingkungan masyarakat dalam bahasa tutur.

Ada 4 faktor penyebab munculnya kata tidak baku, yaitu :

  1. Pengguna bahasa tidak mengetahui bentuk penulisan dari kata yang dia maksud.
  2. Pengguna bahasa tidak memperbaiki kesalahan dalam menggunakan suatu kata, itulah penyebab kata tidak baku akan muncul.
  3. Pengguna bahasa sudah terpengaruh oleh orang-orang yang sudah terbiasa menggunakan kata yang tidak baku.
  4. Dan yang terakhir, pengguna bahasa sudah terbiasa menggunakan kata tidak baku.

Ciri-Ciri Kata Baku dan Tidak Baku

ciri-ciri kata baku dan tidak baku
pexels.com

Kata baku dan tidak baku pun memiliki ciri-ciri, yaitu :

  • Ciri-Ciri Kata Baku

  1. Bentuk kata tetap dan tidak mudah berubah
  2. Tidak terpengaruh dengan adanya bahasa asing ataupun daerah
  3. Penggunaannya sesuai dengan konteks kalimat yang berlaku
  4. Memiliki arti yang pasti, logis, tidak rancu, dan tidak berlebihan
  • Ciri-Ciri Kata Tidak Baku

  1. Umumnya digunakan dalam bahasa sehari-hari
  2. Dipengaruhi oleh bahasa asing atau bahasa daerah
  3. Dipengaruhi oleh perkembangan zaman
  4. Bentuknya mudah berubah-ubah
  5. Memiliki arti yang sama meskipun terkesan berbeda dengan bahasa baku

Fungsi Bahasa Baku

fungsi bahasa baku
pexels.com

Menurut Hasan Alwi, dkk (2003:15) bahasa baku memiliki empat fungsi, yaitu :

1. Fungsi Pemersatu

Negara Indonesia merupakan negara yang terdiri dari beragam suku dan bahasa daerah. Jika di setiap daerah, masyarakatnya menggunakan bahasa daerahnya, maka kemungkinan masyarakat tersebut tidak dapat berkomunikasi dengan masyarakat daerah lain.

Fungsi bahasa baku adalah menghubungkan semua penutur dari berbagai daerah yang berbeda bahasa. Sehingga dengan demikian, bahasa baku dapat mempersatukan masyarakat-masyarakat daerah menjadi satu bangsa.

2. Fungsi Pemberi Kekhasan

Kekhasan merupakan suatu sifat kekhususan. Negara Indonesia mengharuskan setiap wialayah daerah untuk menggunakan bahasa baku, yaitu Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. Melalui fungsi itu, maka bahasa baku dapat memperkuat rasa nasionalisme masyarakat daerah yang bersangkutan.

3. Fungsi Pembawa Kewibawaan

Kepemilikan bahasa baku ikut serta membawa wibawa atau prestise seseorang. Fungsi pembawa kewibawaan bersangkutan dengan usaha seseorang dalam mencapai kesederajatan dengan peradaban yang dikagumi melalui pemerolehan bahasa baku sendiri.

Seorang penutur atau pembicara yang mahir berbahasa Indonesia dengan baik dan benar di suatu masyarakat akan memperoleh wibawa di mata masyarakat tersebut.

4. Fungsi Kerangka Acuan

Sebagai kerangka acuan seseorang dalam pemakaian bahasa dengan adanya norma dan kaidah yang sudah jelas. Norma dan kaidah tersebut menjadi tolak ukur benar tidaknya pemakaian bahasa yang digunakan seseorang.

Unsur Serapan dalam Bahasa Baku

keragaman bahasa
damniloveindonesia.com

Kata-kata dalam bahasa baku atau bahasa Indonesia ada yang menyerap unsur bahasa lain, baik dari bahasa daerah maupun bahasa asing. Di bawah ini merupakan bahasa yang digunakan sebagai sumber penyerapan bahasa yang digunakan.

a. Bahasa Melayu

Kosa kata dalam bahasa melayu dapat dijadikan sumber serapan atau sumber bahan istilah jika memenuhi syarat-syarat berikut ini :

  1. Kata yang paling tepat dan tidak menyimpang dari maknanya jika ada dua kata atau lebih yang memiliki makna yang hampir sama.
  2. Kata yang penulisannya paling singkat, jika ada dua kata atau lebih yang memiliki makna dan tujuan yang sama.
  3. Kata yang bernilai, yaitu kata yang baik dan enak didengar.
  4. Kata umum yang diberi makna baru atau makna khusus guna menyempitkan atau meluaskan makna asalnya.

b. Bahasa Daerah

Bahasa Indonesia memiliki kedudukan sebagai bahasa nasional, namun tidak dapat melepaskan diri dari pendirian unsur-unsur bahasa daerah. Hal ini dikarenakan bahasa Indonesia merupakan cerminan dari kebudayaan nasional.

Sumbangan bahasa di setiap daerah, terutama mengenai kosa kata begitu banyaknya, baik yang sudah diterima menjadi bagian bahasa Indonseia maupun yang belum diketahui penyempurnaannya.

c. Bahasa Asing

Sumber bahasa asing dapat diserap atau digunakan jika bahan pembentukan istilah yang diinginkan tidak ada atau tidak dapat ditemukan dalam bahasa Indonesia.

Ada dua dasar yang perlu diperhatikan dalam proses penyerapan bahasa asing yang akan digunakan, yaitu :

  1. Jika diperlukan penyerapan istilah dari bahasa asing, maka sumber bahasa utama yang dipakai adalah bahasa inggris. Hal ini diambil atas dasar pertimbangan bahwa bahasa inggris adalah bahasa yang diakui dan dipakai Internasional.
  2. Jika istilah asing yang diperlukan itu tidak memiliki atau tidak dapat diganti dengan kata-kata yang terdapat dalam bahasa Indonesia maupun bahasa daerah, maka istilah asing tersebut dapat kita ambil dengan memperhatikan bentuk visual atau tulisannya bukan pengucapannya.

Kata Baku dalam Berbagai Segi

kata baku dari segi nasional
Felisajuliac.blogspot.com

1. Baku dari Segi Lafal

Lafal baku bahasa Indonseia, yaitu lafal yang sudah tidak menampakan lagi ciri-ciri dari bahasa serapan, baik bahasa daerah maupun bahasa asing.

Lafal yang tidak baku dalam bahasa lisan suatu saat akan muncul dalam bahasa tulisan, karena penulis terpengaruh oleh lafal yang diucapkan oleh lisan. Contohnya : Enem -> Enam, Dudu’ -> Duduk, Gubug -> Gubuk, dan lain-lain.

2. Baku dari Segi Ejaan

Ejaan bahasa Indonesia yang baku telah dibentuk dan diberlakukan sejak tahun 1972 dengan nama Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Oleh sebab itu, semua kata yang ditulis tidak menurut kaidah EYD merupakan kata tidak baku. Contoh : sistim -> sistem, apotik -> apotek, aktip -> aktif, dan lain-lain.

3. Baku dari Segi Gramatikal

Secara gramatikal kata baku harus dibentuk sesuai dengan kaidah-kaidah gramatikal. Contoh : Dia ngontrak rumah di sana, Walikota tinjau longsor di Ponorogo.

4. Baku dari Segi Nasional

Kata yang masih memiliki sifat kedaerahan, hendaknya jangan digunakan dalam penulisan resmi. Namun, kalau kata-kata daerah itu sudah bersifat nasional dan menjadi bagian dari kosakata bahasa Indonesia boleh saja digunakan. Contoh : banget -> sekali, semrawut -> kacau, ngomong -> bicara, dan lain-lain.

5. Baku dari Bahasa Asing

Kata serapan dari bahasa asing dapat dikatakan baku apabila ejaannya sesuai dengan pedoman ejaan bahasa asing seperti yang ada dalam EYD maupun dalam buku Pedoman Pembentukan Istilah. Contoh : standard -> standar, certifikat -> sertifikat, analisa -> analisis, dan lain-lain.

Contoh Kata Baku dan Tidak Baku

[table id=2 /]

Kata Baku

Kata Tidak Baku

abjad

abjat

advokat

adpokat

aktif

aktip

aktivitas

aktifitas

ambulans

ambulan
antre

antri

apotek

apotik

belum

belom

berandal

brandal

brankas

brangkas
bus

bis

bujet

budjet
blanko

blangko

cabai

cabe
cedera

cidera

cengkeram

cengkram
cokelat

coklat

cedekiawan

cendikiawan
daftar

daptar

dekret

dekrit
detail

detil

deviasi

defiasi
diagnosis

diagnosa

durian

duren
efektif

efektip

ekstra

extra
elite

elit

ekstrem

ektrim
esai

esei

februari

pebruari
fondasi

pondasi

foto

photo
fotosintesis

fotosintesa

frasa

frase
gaib

ghaib

geladi

gladi
gua

goa

hafal

hapal
hakikat

hakekat

hierarki

hirarki
ijazah

ijasah

ikhlas

ihlas

indera

indra

jadwal

jadual

kaidah

kaedah
lafal

lapal

mantra

mantera
negatif

negatip

omzet

omset

Nah, itulah penjelasan tentang pengertian kata baku dan tidak baku, ciri-ciri, fungsi, unsur serapan, dan contohnya. Semua kata baku digunakan di dalam penulisan semua kalimat, tidak terkecuali kalimat majemuk.

Semoga artikel di atas dapat menambah pengetahuan teman-teman semua. Dan atas waktu yang diluangkan untuk membaca artikel ini, saya ucapkan terimakasih.

Tinggalkan Balasan