Berkunjung ke Dataran Tinggi Dieng

dieng-losmenbudjono.com
losmenbudjono.com

Berkunjung ke Dataran Tinggi Dieng. Dieng merupakan dataran tinggi yang terletak di kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Sering disebut pula Dataran Tinggi Dieng. Yang memiliki sebutan negeri di atas awan, karena letaknya berada di ketinggian 2.093 mdpl. Dan merupakan desa tertinggi di Pulau Jawa.

Sejauh mata memandang hampir semua terlihat warna hijau yang menyegarkan. Banyak perkebunan teh, sayur dan buah-buahan yang tubuh dengan subur. Di Dataran Tinggi Dieng mayoritas penduduknya seorang petani sayur dan buah-buahan.

Dieng memiliki destinasi wisata yang sangat memanjakan mata. Suasana yang tenang dan udara yang sejuk menambah kenyamanan para pengunjung. Kisaran suhu di Dieng sekitar 15 sampai 20 derajat Celcius. Dieng seringkali menjadi tujuan utama traveler ketika berada di Wonosobo.

Perjalanan Ke Dieng

perjalananku-youtube.com
youtube.com

Sedari pagi aku sudah bersiap untuk keberangkatan nanti malam. Menyiapkan hal-hal umum yang biasa orang bawa ketika berwisata, terutama uang dan kamera. Setelah isya’ segera ku hubungi para sahabatku untuk segera berkumpul. Kami berkumpul di depan masjid Assegaf, Gajahan, Surakarta.

Sudah empat orang yang berkumpul, dan yang lainnya masih dalam perjalanan. Setelah beberapa saat menunggu, kedua orang tersebut datang. Dan kami  langsung berangkat tanpa banyak kata. Kita berangkat dengan tiga motor yang membawa enam nyawa. Dan tidak lupa membaca do’a,

بِسْمِ اللَّهِ ، تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ ، وَلا حَوْلَ وَلا قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّه

“Bismilaahi tawakkaltu ‘alallahi wa laa hawla wa laa quwwata illaa billaahi”

Yang artinya “Dengan menyebut nama Allah, aku menyerahkan diriku pada Allah dan tidak ada daya dan kekuatan selain dengan Allah saja”.

Kami melewati rute jalan Solo – Boyolali – Salatiga – Ambarawa – Grabak – Temanggung – Wonosobo. Tapi hujan lebat turun ketika kami baru sampai di Ambarawa. Sehingga  berteduh di emperan minimarket sampai hujan reda. Tapi setelah sekian lama menunggu ternyata air  masih turun dengan derasnya.

Kami pun memutuskan nekat melanjutkan perjalanan. Kami pun sampai di daerah Parakan, dan beristirahat di emperan salah masjid. Sambil menikmati bekal snack yang kami bawa dari rumah.

Kami tidur di sana tanpa menggunkan alas tidur dari jam sepuluh hingga waktu subuh. Perjalanan ke Dieng kami lanjutkan setelah subuh tanpa mandi dan sarapan.

Merasa Lapar

warteg-selipan.com
selipan.com

Selelah perjalanan kurang lebih tiga jam akhirnya sampai tempat tujuan, yaitu di Dieng. Ketika itu juga perut kami terasa keroncongan. Para cacing perut tidak bisa diajak kompromi. Kami pun mencari warung makan terdekat untuk sarapan.

Dan akhirnya sebuah warung makan sederhana menjadi pilihan kami.Di situ kami memesan nasi sayur dengan lauk  tempe dan kerupuk. Untuk minum kami cukup memesan teh hangat. Mengingat kondisi keuangan kami yang mepet dan semakin menipis.

Tujuan Tempat Wisata

Setelah sarapan dan membayarnya kami melanjutkan tujuan utama kami ke Dataran Tinggi Dieng. Dengan perut kenyang dan semangat disertai perasaan gembira. Kita berkunjung di beberapa tempat wisata yang sebelumnya searching di google, sebagai berikut.

  • Bukit Sikunir

sikunir-piknikasik.com
piknikasik.com

Bukit Sikunir terkenal akan Golden Sunrisenya yang amat menyegarkan mata. Sayang kami tidak dapat menikmati Golden Sunrise seperti yang di ceritakan orang-orang. Kami sampai di sana ketika waktu masuk dhuha. Dengan membayar tiket masuk seharga Rp 10.000  per orang, kita sudah dapat menikmati indahnya pemandangan dari atas bukit.

Tapi kita harus berjuang dahulu dengan berjalan kaki selama 30 menit sampai satu jam untuk sampai Puncak Sikunir. Berjalan bersama wisatawan lain dari berbagai daerah menuju bukit, membuat kita lebih semangat.

Walaupun tidak mendapatkan Golden Sunrise, kami tetap bersuka ria. Melakukan hal-hal konyol dan berfoto dengan pedenya di hadapan orang-orang, hehe.

  • Telaga Warna

telaga warna-wisataku.id
wisataku.id

Setelah puas menikmati pemandangan di Bukit Sikunir, kami menuju ke Telaga Warna. Menurut cerita orang-orang dan google, Telaga Warna memiliki kebiasaan yang unik. Yang mana Telaga warna dapat berubah-ubah warnanya.

Setelah membayar tiket masuk Rp 8.000 per orang dan biaya parkir Rp 3.000 per motor, kami meninggalkan loket dan masuk ke dalam. Dan benar, air di Telaga Warna dapat berubah warna ketika terkena sorot cahaya matahari. Mulai dari warna hijau, kuning dan kadang warna pelangi.

Seperti wisatawan yang lain, kita juga berfoto ria untuk mangabadikan momen yang sangat langka tersebut. Mungkin bisa diceritakan pada anak adn cucu kita kelak.

  • Kawah Sikidang

kawahsikidang-panduanwisatadieng.com
panduanwisatadieng.com

Kawah Sikidang, itulah tujuan kami selanjutnya. Kawah Sikidang merupakan cekungan berisikan kawah yang timbul karena aktivitas Gunung Berapi di Dataran Tinggi Dieng.

Untuk masuk ke dalam kita cukup membayar tiket seharga Rp 7.500 per orang. Harga yang bisa dibilang murah dibanding tempat wisata yang lainnya.

Sebelum masuk ke kawasan, kami disuruh memakai masker agar tetap terjaga pernapasan kita. Dan kami dilarang melewati batas pagar yang telah dipasang oleh petugas demi keselamtan kami sendiri. Di sini kita juga mengabadikan momen-momen seperti di tempat wisata sebelumnya.

  • Basecamp Gunung Prau via Dieng

basecamp-oleholehwaktu.blogspot.com
oleholehwaktu.blogspot.com

Setelah itu kami pulang dengan rute yang sama. Ketika di pertengah jalan kami melihat plakat yang bertuliskan Basecamp Gunung Prau via Dieng. Kami sekedar mampir untuk foto saja di Gapura Basecamp tersebut.

Hanya sekedar untuk memamerkan ke teman-teman di rumah, bahwa saya pernah ke Gunung Prau. Walaupun hanya di Basecampnya saja, haha.

Oleh-Oleh Khas Dataran Tinggi Dieng

toko oleh-oleh-faridsancoyowidagdo.wordpress.com
faridsancoyowidagdo.wordpress.com

Oleh-oleh merupakan yang sering ditanyakan orang rumah ketika pulang dari berwisata. Padahal mereka tidak memberi kita sangu atau uang jajan ketika mau berangkat wisata, hehe.

Tapi kita biasanya tetap berusaha membawakan oleh-oleh untuk menyenangkan hati oarng tua atau saudara. Saya memilih oleh-oleh yang pas dengan kondisi keuangan di dompet. Mengingat uang saya yang pas-pasan dan perjalanan pulang masih jauh.

Kami berhenti di salah satu toko oleh-oleh di dekat basecamp. Setelah sekian lama memilih oleh-oleh yang akan saya beli sesuai kondisi keuangan. Akhirnya memutuskan untuk membeli oleh-oleh berikut ini,

  • Manisan Carica

carica-tokopedia.com
tokopedia.com

Manisan yang terbuat dari buah carica sejenis buah pepaya khas Dieng. Saya membeli sebanyak 2 bungkus yang satu bungkusnya berisikan lima cup manisan carica.

  • Grubi

grubi-picbon.com
picbon.com

Camilan yang terbuat dari singkong dan juga ubi. Ubi diserut kecil-kecil, lalu digoreng sampai kering  kemudian dicampur dengan cairan gula jawa plus jahe hingga tercampur rata. Dan hasil akhirnya adalah dibentuk bulat-bulat dengan cara dikepal-kepal.Saya membeli sebanyak dua bungkus juga.

Perjalanan pulang

Sebelum melanjutkan untuk perjalanan pulang, berhenti sejeknak di salah satu masjid di dekat toko oleh-oleh. Untuk melaksanakan kewajiban sholat. Kami men-jamak takhir dari dzuhur ke ashar.

Kami melanjutkan perjalanan ketika semua sudah siap dan tidak memiliki hajat yang harus dilakukan, seperti pipis dan BAB. Rute jalan yang kami lewati masih sama ketika kami berangkat.

Namun ketika kami sampai di daerah Grabak, sang pemandu salah belok jalan. Sehingga kami tersesat entah dimana. Karena ketika waktu sudah mulai petang, sehingga jalanan gelap ditutupi pohon-pohon yang tinggi.

Sekian lama kami berputar-putar tanpa tau arah jalan pulang. Kami berhenti sejenak di salah satu masjid di daerah yang kami tidak tahu. Kewajiban sholat maghrib dan isya’ pun kami jamak juga.

Untungnya di masjid tersebut ada seseorang yang sangat baik mau membantu. Dan kebetulan dia juga mau pulang ke Salatiga. Kami pun mengikutinya dari belakang dengan kecepatan yang terbilang kencang menurut saya.

Setelah di Salatiga kami berpisah karena arah yang dituju sudah berbeda. Kami berterima kasih kepadanya karena sudah menunjukan jalan. Tinggal perjalanan kami dari Salatiga ke Solo yang belum terselesaikan.

Alhamdulillah, akhirnya kami sampai di Solo kota tercinta pukul 11.30. Dan semua langsung pulang ke rumah masing-masing. Mengingat waktu yang sudah terlalu malam. Itulah kisah perjalanan saya bersama teman-teman dan merupakan pertama kali tersesat di jalan.

Tinggalkan Balasan